TULANGBAWANG (TR) — Menyikapi laporan ke Polres Tulangbawang, yang dilakukan oleh Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpos)Almunfarijah Tulung Boho, Kecamatan Menggala, Ahmad Al Habibi, terhadap Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI)Kabupaten Tulangbawang, beberapa waktu yang lalu, disikapi oleh Ustadz Yantori dengan tenang dan pasrah kepada Alloh SWT.
Dikatakan oleh ustadz Yantori, bahwa semua yang terjadi dan yang dialami oleh setiap muslim didunia ini, pernah dilami oleh para Nabi dan Rasul, seperti kisah Nabi Yusuf, AS, sebelum dia menjadi seorang perdana Mentri, dia pernah penjara akibat tuduhan pemerkosaan terhadap Zulaikha.
”Ada juga kisah Nabi Ibrohim, AS, yang menghancurkan berhala raja Namrud, akibat perbuatannya, dia dibakar hidup-hidup, atas kuasa Alloh SWT, Nabi Ibrohim tidak tersentuh oleh jilatan api, apalagi seperti saya, yang hanya seorang ketua MUI,  kalaupun harus dipenjara saya akan terima, biar ada sejarahnya dalam hidup, membantu orang malah dipenjara,”terang ustadz Yantori, saat ditemui diruang kerjanya, jalan Cendana, Menggala. Selasa, (29/12/2020).
Tapi tidak semesti, lanjut Ustadz Yantori, karena apa yang ia lakukan semata-mata membantu pemilik Ponpes di Tulangbawang, tidak ada indikasi apapun didalam batuan yang diberikan oleh Pemkab Tulangbawang.
”Saya hanya menyeleksi berkas yang sudah diformat oleh Kepala BAPPEDA Tuba, untuk menconteng 31 Ponpes yang menerima bantuan sebesar Rp.20 juta. Masalah ada dan tidaknya Ponpes yang mendapatkan bantuan bukan kewenang saya, semuanya telah ditetapkan,”ujar Ustadz Yantori.
Dijelaskan Ustadz Yantori, masalah proposal Ponpes Almunfarijah Tulung Boho yang tidak ada dalam format mendapatkan bantua, semuanya telah jelas, bahwa yang sudah mendapatkan bantuan dari 2017 sampai tahun 2020, tidak dapat di akomodir, karena sudah ada didalam peraturan, harus menunggu di tahun kedua.
”Karena inilah, Habib itu menelpon saya, menanyakan proposalnya, dengan tidak mengunakan etika, saya masih bicara di sanggahnya, yang lebih parahnya, pembicaraan saya belum habis, telepon sudah ditutup, beberapa kali saya telepon kembali tidak pernah diangkat, hingga saya kirim pesan lewat whatsapp,”jelas Yantori.
”Karena itu, saya tidak akan memperpanjang masalah ini, biarkan saja, karena kita harus menjaga talisilaturahmi persaudaraan, sesuai dengan selogan Kabupaten Tulangbawang, Saibumi Nenggah Nyappur, yang diartikan, walaupun berbagai macam suku yang ada, harus menbaur menjadi satu, demi kemajuan Kabupaten Tulangbawang,”ucap Yantori. (**)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here